Minggu, 19 Januari 2014

SEJARAH PERKEMBANGAN RADIOIMUNOTERAPI (RIT)

Perkembangan RIT berawal dari seorang ahli patologi berkebangsaan Jerman, Paul Ehrlich, yang pada akhir abad ke-19 yang mengutarakan teori “magic bullets”. Ia mengatakan akan ada suatu protein yang dapat mengikat organisme patogen secara spesifik. Lima puluh tahun kemudian, Gorer membuktikan kebenaran teori tersebut dengan menemukan serum anti-tumor yang berasal dari tikus hitam mampu menekan pertumbuhan sel leukemia pada tikus albino. Penggunaan terapi antibodi secara klinis pada saat itu masih mengecewakan.

Pada tahun 1950 telah diketahui bahwa protein dapat dilabel dengan I-131 tanpa merubah kemampuan imunologisnya yang spesifik. Pressman dan Korngold berhasil menemukan penangkapan dari I-131 yang berlabel dengan anti-serum kelinci pada osteosarkoma di tikus. Uji klinis pertama yang menilai kemangkusan RIT dilakukan pada tahun 1950-an oleh Beierwaltes yang mengobati 14 pasien dengan metastasis melanoma. Ia menggunakan I-131 berlabel anti-serum kelinci dan berhasil menemukan complete response (CR) pada satu pasien.

Gambar. Teknik hibridoma yang dapat memproduksi antibodi monoklonal dalam jumlah besar 
Dikutip dari : Koppe MJ et al., Antibody-guided radiation therapy of cancer, 2005.


Pada tahun 1965 Gold dan Freeman berhasil menemukan carcino-embryonic antigen (CEA) yang diekspresikan oleh adenokarsinoma kolon, namun tidak diekspresikan pada kolon yang sehat. Pada tahun 1974 Mach dkk. untuk pertama kalinya melaporkan kemampuan penangkapan dari serum anti-CEA berlabel radionuklida oleh keganasan kolon manusia yang ditanam pada tikus. Di akhir tahun 1970-an Goldenberg dkk. berhasil mentarget keganasan kolon dengan menggunakan anti-CEA antiserum poliklonal dari kambing. CEA menjadi salah satu penanda tumor yang sering digunakan dan juga menjadi salah satu antigen tumor yang dapat ditarget pada RIT.

Penggunaan antibodi di klinis meningkat efektifitasnya setelah ditemukan teknik hibridoma oleh Kohler dan Milstein di tahun 1975 (lihat gambar 1). Prinsip dari teknik ini adalah fusi dari antibodi tikus dengan sel ganas mieloma. Teknik ini menghasilkan antibodi monoklonal murni yang spesifik menempel pada epitop tunggal dari sel ganas. Dengan berkembangnya teknik hibridoma ini, Kohler dan Milstein dianugerahi hadiah Nobel dalam bidang kesehatan pada tahun 1984. Beberapa antigen tumor lainnya berhasil ditemukan dengan menggunakan teknik hibridoma ini, seperti Mucin-1 (MUC-1) yang diekspresikan oleh hampir seluruh adenokarsinoma, tumor-associated glycoproteins (TAG-72) yang diekspresikan oleh karsinoma ovarium, payudara, dan kolorektal, serta G250 yang diekspresikan pada karsinoma renal. Sejak saat itu, banyak penelitian yang bertujuan menilai kemangkusan RIT untuk keganasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar