Fakultas Kedokeran Universias Pelita Harapan (FKUPH)
Kedokteran nuklir merupakan suatu spesialis kedokteran yang menggunakan sumber radiasi terbuka untuk menilai fungsi dan metabolisme organ serta mendiagnosa dan mengobati penyakit.
Minggu, 13 November 2016
Happy 15th Anniversary FKUPH: Great alumni is homecoming!
Fakultas Kedokeran Universias Pelita Harapan (FKUPH)
Minggu, 05 Juni 2016
Saya kan sakit tiroid, kenapa disuruh foto???
Bagi kebanyakan pasien yang dicurigai memiliki penyakit tiroid mungkin akan merasa heran ketika diminta oleh dokternya untuk melakukan berbagai macam pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut dapat meliputi pemeriksaan darah, foto (imaging), biopsi (pengambilan sampel jaringan), atau pemeriksaan lainnya. Yang jelas, dokter yang merawat memerlukan semua hasil pemeriksaan tersebut sebgai bahan analisa dalam menentukan diagnosa yang tepat sebelum memberikan pengobatan. Diagnosa yang tepat akan berdampak pada jenis pengobatan yang efektif. Dokter yang baik dapat menduga suatu diagnosa berdasarkan hasil wawancara dan pemeriksaan fisik, serta memastikannya (evidence based) dengan menggunakan data dari pemeriksaan penunjang seperti yang disebutkan di atas.Terkadang penyakit tiroid dapat terdeteksi secara tidak sengaja dari pemeriksaan imaging (CT, MRI, atau PET scan) ketika pasien sedang melakukan pemeriksaan medical check-up atau pemeriksaan yang ditujukan untuk penyakit lain. Setelah pemeriksaan darah (kadar hormon tiroid T3, fT4, dan TSH), dokter biasanya akan meminta pemeriksaan sidik tiroid (thyroid scan) dan USG tiroid sebagai pemeriksaan berikutnya. Tujuan dari kedua pemeriksaan imaging ini adalah untuk menilai status fungsional dan struktur (bentuk) dari kelenjar tiroid. Hasil pemeriksaan imaging ini akan dikorelasikan dengan hasil pemeriksaan darah. Jika informasi yang diperoleh masih dianggap kurang mendukung untuk penegakkan diagnosa, maka dokter akan meminta beberapa pemeriksaan imaging tambahan, seperti CT, MRI, atau bila perlu pemeriksaan kedokteran nuklir lainnya.
Pada tulisan kali ini, saya akan membahas mengenai manfaat beberapa jenis pemeriksaan imaging yang sering dimintakan oleh dokter ketika menangani pasien yang dicurigai memiliki penyakit tiroid. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pasien ataupun dokter yang merawat.
Untuk memperoleh hasil pemeriksaan thyroid scan yang maksimal, maka biasanya pasien akan diminta mengkonsumsi makanan rendah iodium selama 3-4 hari sebelum pemeriksaan, dengan tujuan untuk mengurangi kadar iodium di dalam darah yang dikhawatirkan dapat mengganggu proses pemeriksaan. Selain itu, pasien juga diminta menghentikan obat-obatan yang dapat mengganggu akumulasi iodium di kelenjar tiroid, seperti obat anti-tiroid (PTU atau merkazol), amiodaron, atau bahkan bila perlu obat gosok selama 3-4 hari. Untuk pasien yang baru saja melakukan pemeriksaan CT scan dengan kontras iodium, sebaiknya menunda pemeriksaan thyroid scan hingga 2 minggu setelah pemeriksaan CT scan tersebut. Oleh sebab itu hal di atas penting untuk diperhatikan bagi pasien yang akan melakukan pemeriksaan thyroid scan. Karena pemeriksaan thyroid scan ini menggunakan radioaktivitas, maka ibu hamil tidak diperbolehkan untuk melakukan pemeriksaan ini. Untuk ibu menyusui, dapat tetap melakukan pemeriksaan ini namun diminta tidak menyusui hingga 3-4 hari setelah pemeriksaan.
Pada penyakit hipertiroid (Graves disease) fungsi kelenjar tiroid akan meningkat, sehingga tangkapan radioaktivitas pada thyroid scan akan tinggi (dokter nuklir biasanya menyebut hot). Hal ini bisa diketahui dari foto thyroid scan yang menunjukkan gambaran thyroid yang lebih gelap dan besar dibandingkan dengan gambaran thyroid scan yang normal. Selain itu, persentase uptake radioaktivitas pada hipertiroid juga biasanya di atas nilai normal.
Pada penyakit peradangan tiroid yang subakut (subacute thyroiditis), tangkapan radioaktivitas pada thyroid scan akan rendah (cold) dan akan kembali normal setelah peradangannya diobati.
Pada pasien yang memiliki banyak benjolan, thyroid scan dapat membantu menentukan status fungsional dari setiap benjolannya. Benjolan tiroid yang paling cold disarankan sebagai benjolan terbaik untuk dilakukan pemeriksaan biopsi, karena peluang untuk ditemukan keganasannya cukup besar.
Thyroid scan juga dapat membantu menilai adanya sisa jaringan tiroid fungsional setelah operasi keganasan tiroid. Keberadaan sisa jaringan tiroid fungsional ini dapat digunakan untuk memprediksi keberhasilan terapi iodium radioaktif.
Thyroid scan bermanfaat dalam menentukan lokasi atau keberadaan kelenjar tiroid pada bayi yang baru lahir. Kelainan bawaan lahir dengan kadar hormon tiroid yang rendah (hypothyroid congenital) dapat terjadi pada bayi baru lahir, walaupun angka kejadinnyanya sangat kecil. Kelainan ini dapat berupa tidak terbentuknya kelenjar tiroid (agenesis) atau kelenjar tiroid berada di lokasi yang tidak semestinya (ektopik).
Kelenjar tiroid berbentuk seperti kupu-kupu atau 2 buah perisai, dengan ukuran normalnya setiap perisai/sayap adalah sebesar ibu jari kita (tinggi = 4-6cm, lebar = 1.3 - 1.8cm) dan berat normal sekitar 15-25 gram. Berdasarkan USG, dokter dapat menilai bentuk dan ukuran kelenjar tiroid, apakah ada benjolan atau tidak, apakah benjolannya berisi cairan (kista) atau jaringan padat, atau campuran antara cair dan padat, serta kondisi aliran darahnya. Namun USG tiroid tidak dapat membedakan apakah benjolannya itu ganas atau jinak. USG sering digunakan sebagai alat bantu dalam melakukan prosedur biopsi. USG tiroid juga tidak dapat menilai aktivitas metabolisme dari kelenjar tiroid atau benjolannya.
Pada hipertiroid, pembengkakan kelenjar tiroid disertai dengan peningkatan aliran darah dapat terdeteksi pada USG tiroid. Pada peradangan tiroid akut, dapat terlihat adanya beberapa benjoan kecil pada jaringan tiroid dengan peningkatan aliran darah. Jika peradangannya sudah berangsung kronis (Hashimoto disease), aliran darah menjadi berkurang, dan benjolannya berubah menjadi jaringan ikat.
Pada benjolan tiroid jaringan adat dan berukuran lebih dari 1 cm yang dicurigai terdapat keganasan dapat dijumpai beberapa ciri khas, seperti adanya pengapuran dengan bayangan yang rendah dan batas yang tidak beraturan. Bahkan terkadang benjolan tersebut juga dapat terlihat sudah menembus selaput dari kelenjar tiroid, serta seringkali ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening di sekitar kelenjar tiroid. Jika ditemukan ciri-ciri demikian pada USG tiroid, maka sebaiknya dilakukan biopsi atau pengambilan jaringan dengan jarum halus untuk mengkonfirmasi adanya keganasan.
CT scan, terutama dengan menggunakan kontras (zat warna) iodium, dapat bermanfaat pada pasien dengan benjolan tiroid yang dicurigai suatu keganasan. Selain dapat menilai ukuran dan batasan-batasan dari benjolan secara lebih akurat, CT scan dengan menggunakan kontras iodium juga dapat mendeteksi adanya kelenjar getah bening dan dicurigai sebagai penyebaran yang tidak dapat terdeteksi oleh USG leher.
Namun, penggunaan kontras yang mengandung iodium pada CT scan harus dilakukan secara hati-hati karena dapat mengganggu pengobatan ablasi dengan iodium radioaktif hingga 6 - 8 minggu kemudian. Meskipun sangat jarang, kontrast iodium pada CT scan dapat memicu pelepasan hormon tiroid, yang dapat menyerupai gejala hipertiroid, kondisi ini disebut sebagai tirotoksikosis. Pasien dengan hipertiroid, usia lanjut, dan yang tinggal di wilayah kekurangan iodium berisiko tinggi terjadi tirotoksikosis pada pemberian kontras iodium.
Pemeriksaan CT scan dapat tetap dilakukan tanpa pemberian kontras, hanya saja resolusi yang dihasilkan tidak terlalu baik. MRI dengan penggunaan kontras gadolinium relatif lebih aman, walaupun dalam penelitian terakhir mengatakan bahwa penggunaan kontras gadolinium pada MRI juga perlu dilakukan dengan hati-hati, karena ternyata gadolinium dapat terakumulasi dalam jangka waktu yang lama di otak, walaupun belum diketahui dampak buruknya pada otak. Akhir-akhir ini sering ditemukan kasus dengan efek kurang baik dari kontras gadolinium pada pasien dengan kelainan fungsi ginjal. Namun, resolusi tinggi yang dihasilkan oleh MRI dapat mendeteksi adanya tumor yang sangat kecil hingga ukuran 4mm, sehingga dapat mendeteksi tumor tiroid secara dini.
Pemeriksaan Kedokteran Nuklir lainnya
Keganasan tiroid terdiri dari beberapa jenis, dengan jenis keganasan tiroid yang paling banyak adalah karsinoma tiroid papiler sebesar 80% disusul dengan karsinoma tiroid folikuler sekitar 15 %, dan sisanya merupakan keganasan tiroid jenis lain, seperti mantle-cell dan limfoma. Adapula keganasan yang berasal dari jaringan parenkim tiroid, yaitu karsinoma tiroid meduler. Sekitar 2% dari keganasan tiroid merupakan keganasan yang berdiferensiasi buruk (anaplastik) dan memiliki respon yang kurang baik terhadap pengobatan. Semua jenis keganasan tiroid ini dapat diperiksa dengan pemeriksaan histopatologi atau pemeriksaan jaringan.
Pada keganasan tiroid jenis papiler dan folikuler dapat mengakumulasi iodium radioaktif, sedangkan pada keganasan tiroid jenis lain tidak dapat mengakumulasi iodium radioaktif, sehingga diperlukan jenis imaging yang lain. PET FDG scan dapat mendeteksi keganasan tiroid berdiferensiasi buruk serta keganasan tiroid jenis lain seperti karsinoma tiroid meduler dan limfoma. MIBG scan juga dapat bermanfaat pada karsinoma tiroid meduler, selain untuk penegakkan diagnosis juga dapat digunakan sebagai pengobatan.
Pada keganasan tiroid papiler atau folikuler yang berubah sifat menjadi tidak efektif terhadap iodium radioaktif (resisten), dokter nuklir biasanya akan mengkonfirmasi dengan pemeriksaan PET FDG scan. Jika PET FDG scan positif maka dapat dikatakan telah terjadi perubahan sifat keganasan tiroid (dediferensiasi), dan strategi pengobatannya akan berubah. Perlu dipertimbangkan untuk dilakukan operasi atau radioterapi pada pasien yang mengalami proses dediferensiasi ini.
![]() |
| Gambar 3. Gambaran Whole Body Scan I-131 dan PET FDG scan pasien dengan keganasan tiroid yang mengalami dediferensiasi |
Simpulan
Angka kejadian penyakit tiroid semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Diagnostic imaging dapat membantu dalam mendeteksi adanya kelainan pada kelenjar tiroid. Selain USG tiroid dan thyroid scan, pemeriksaan imaging yang lain seperti CT, MRI, PET FDG scan, dan MIBG scan juga dapat digunakan dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi pasien.
Sabtu, 13 Juni 2015
PENGUMUMAN
Kepada Yth. Pembaca blog-ku
Yang Budiman,
Terima kasih telah membaca tulisan2 saya dalam blog ini. Mohon maaf yang sebesar2nya, dikarenakan saat ini saya sedang tidak berpraktik di Indonesia, maka saya tidak dapat membantu konsultasi langsung secara tatap muka. Namun begitu, apabila ada hal yang ingin disampaikan dapat disampaikan melalui email saya (ryannuclear@gmail.com). Insya Allah, cepat atau lambat saya akan merespon. Komunikasi melalui kotak komentar, apalagi melalui telepon, untuk sementara belum dapat saya layani dengan baik.
Sekali lagi saya sampaikan permohonan maaf yang sebesar2nya. Mohon doa restu, agar saya dapat segera kembali ke tanah air dan membantu teman2 yang membutuhkan.
Salam dan terima kasih,
Ryan Yudistiro
Minggu, 24 Mei 2015
Studi kasus: PET/CT FDG pasien dengan IgG4-related disease yang dapat menipu dokter spesialis kedokteran nuklir
Oke, kembali ke studi kasus. Pada presentasi kali ini saya akan membawakan studi kasus mengenai penyakit yang berhubungan dengan IgG4 (IgG4-related disease [IgG4-RD]) yang dilakukan follow up dengan menggunakan PET/CT FDG. Angka kejadian penyakit ini sangat sering ditemukan di Jepang, dalam 1 hari pelayanan PET/CT FDG di Gunma University dapat ditemukan ada 1-2 pasien dengan IgG4-RD. IgG4-RD sendiri adalah suatu penyakit yang diakibatkan kelainan imunitas dan menyebabkan peradangan fibrosis (fibroinflammatory). Yang menjadi masalah adalah, penyakit IgG4-RD ini seringkali menyerupai keganasan, oleh sebab itu dokter yang merawat harus hati-hati dalam menegakkan diagnosanya. Penyakit ini memiliki karakteristik yang sangat khas, yaitu keterlibatan multipel organ, gambaran histopatologi yang khas, dan peningkatan kadar IgG4 serum. Penyakit ini merupakan penyakit sistemik yang memiliki tempat lesi yang paling sering adalah kelenjar pankreas, kelenjar hipofisis, organ Mickulicz' disease (yaitu kelenjar lakrimal, parotid, dan saliva), serta organ lainnya seperti paru-paru, saluran empedu, ginjal, organ retroperitoneal, kelenjar getah bening, dan kelenjar prostat. Penyakit ini memiliki prognosis yang baik karena berespon cukup baik dengan pemberian terapi steroid. Sayangnya, hingga saat ini belum ada pedoman kriteria diagnostik yang digunakan secara luas, namun kementerian kesehatan Jepang di tahun 2011 telah mengajukan pedoman kriteria diagnostik untuk penyakit ini.
Kriteria diagnostik IgG4-RD ini mencakup:
- Ditemukannya keterlibatan single/multipel organ dengan penyebaran yang fokal/difus.
- Peningkatan kadar IgG4 serum
- Gambaran histopatologi yang khas, yaitu ditemukannya infiltrasi limfoplasmasitik dan fibrosis berbentuk bintang, serta peningkatan IgG4+ sel plasma dan rasio IgG4+/IgG+
![]() |
| Gambar 1. PET/CT FDG awal |
Berdasarkan hasil PET/CT FDG diketahui bahwa terdapat pembesaran kelenjar getah bening di beberapa lokasi dengan penangkapan FDG yang meningkat (lihat gambar). Kelenjar getah bening tersebut adalah kelenjar getah bening submandibula kanan, supraklavikula kanan, pretrakea sisi kanan, dan hilus paru kanan. Lokasi biopsi dilakukan pada kelenjar getah bening submandibula dengan hasil pemeriksaan histopatologinya menunjukkan adanya gambaran yang khas untuk suatu IgG4-RD. Namun pada saat ini, karena kadar IgG4 serum masih normal, maka belum dapat dipastikan sebagai IgG4-RD, walaupun hasil histopatologi mendukung untuk suatu IgG4-RD. Akibatnya dokter yang tidak merawat tidak memberikan terapi steroid dan hanya direncanakan untuk follow up 6 bulan kemudian dengan PET/CT FDG.
![]() |
| Gambar 2. PET/CT FDG 6 bulan kemudian (sebelum terapi) |
![]() |
| Gambar 3. PET/CT FDG 3 bulan setelah terapi |
Selasa, 05 Mei 2015
Perkenalkan: Prosedur Terapi Kedokteran Nuklir Untuk Pasien Kanker Hati
Pada liburan kali ini saya juga berkesempatan untuk menghadiri pelatihan cara pemberian terapi radioaktif pada pasien dengan keganasan di hati. Walaupun saya tidak secara langsung menghadiri pelatihan tersebut, namun sedikit banyak saya memahami pemberian terapi ini.
Pelatihan ini dilakukan di rumah sakit MRCCC Siloam Semanggi, rumah sakit swasta khusus kanker yang memiliki modalitas diagnostik dan terapi yang cukup lengkap. Dalam rangka meningkatkan pelayanan yang komprehensif pada pasien kanker khususnya pasien dengan kanker di hati, maka MRCCC Siloam Semanggi, khususnya Departemen Kedokteran Nuklir bermaksud untuk melakukan prosedur yang disebut sebagai "TransArterial RadioEmbolization" atau yang disingkat sebagai TARE. Prosedur terapi ini akan menjadi prosedur TARE yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Prosedur TARE ini ditujukan untuk pasien yang memiliki keganasan di hati, baik itu primer maupun metastasis. Prosedur TARE ini lebih efektif jika diberikan pada pasien metastasis hati dengan risiko efek samping yang lebih minimal jika dibandingkan dengan TACE (TransArterial ChemoEmbolization). Berbeda dengan TACE, kemampuan TARE dalam membunuh sel kanker lebih besar karena adanya energi radiasi yang dipancarkan oleh radioisotop Y-90. Radioisotop Y-90 ini merupakan senyawa partikel beta yang memiliki jarak penetrasi energi rasiasi dalam membunuh sel kanker cukup besar, yakni sekitar 3mm. Sel kanker tersebut dapat mati akibat energi radiasi yang merusak rantai ganda DNA secara langsung. Radioisotop Y-90 ini ditempelkan pada senyawa mikrosfer yang berukuran nanometer dan berfungsi mengembolisasi kapiler tumor di hati. Y-90 mikrosfer ini akan terperangkap di dalam jaringan tumor di hati, dan membunuh sel kankernya. Akibatnya ukuran tumor akan mengecil.
Oleh sebab itu, terapi ini salah satu tujuan terapi TARE pada pasien kanker hati yang tidak dapat dioperasi karena ukurannya yang sangat besar. Dengan terapi ini diharapkan ukuran tunor dapat mengecil dan dapat dioperasi. Pemberian terapi TARE ini diharapkan dapat meningkatkan angka harapan hidup dan angka bebas perburukan penyakit pada pasien kanker hati.
Prosedur terapi ini dilakukan secara multidisiplin dengan anggota tim terdiri dari hepatologis, kedokteran nuklir, dan radiologi interventionis. Ada beberapa kriteria seleksi pasien dan tahapan dalam pelaksanaan terapi ini. Hal ini akan saya bahas dalam tulisan saya berikutnya.
So, stay tune in my blog.
Senin, 04 Mei 2015
Apakah aman mengkonsumsi obat anti-tiroid selama kehamilan dan menyusui ?
Dari sekian banyak pertanyaan masyarakat, ada 1 pertanyaan yang membuat saya membuka kembali blog saya ini dan mencoba untuk menulis dan menjelaskan pertanyan-pertanyaan mereka. Pertanyaan tersebut berhubungan dengan pengobatan penyakit hipertiroid pada ibu hamil dan menyusui. Saya kembali teringat akan pasien-pasien hipertiroid saya yang sebagian besar adalah wanita. Penyakit hipertiroid sendiri dapat mengganggu kesuburan bila tidak segera diobati.Selasa, 07 April 2015
Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF)
![]() |
| Gambar. Faktor pertumbuhan dan VEGF serta reseptornya (diambil dari: FASEB J/ 13. 9-22 (1999)) |








