Rabu, 07 Mei 2014

Manfaat PET FDG scan Pada Pengobatan Kanker Payudara

Saat ini angka kejadian kanker payudara di dunia terus meningkat. Bahkan, kanker payudara merupakan jenis kanker terbanyak yang menyerang para wanita di Indonesia dan beberapa negara lainnya. Pertumbuhannya yang cepat dan agresif memerlukan penanganan medis yang juga harus cepat dan tepat. Penegakkan diagnostik dan penentuan stadium sangat berperan dalam penatalaksanaan pasien kanker payudara.
Diagnosa kanker payudara ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi (jaringan). Sampel jaringan tumor diambil melalui prosedur biopsi. Setelah diagnosa kanker payudara ditegakkan, maka dokter yang merawat harus menentukan stadium kanker payudara tersebut. Stadium kanker yang digunakan luas secara internasional sampai saat ini adalah penentuan stadium berdasarkan TNM (Tumor Nodal Metastase). Pembagian stadium ini berdasarkan dari ukuran tumor, penyebaran kelenjar getah bening, dan penyebaran ke organ lain. Stadium kanker ini terbagi menjadi 4, dimana stadium I dan II disebut sebagai stadium dini, sedangkan stadium III dan IV disebut stadium lanjut. Semakin tinggi stadiumnya, semakin kecil harapannya untuk mengendalikan kankernya. Pada stadium IV sudah ditemukan penyebaran di organ lain. Penentuan stadium ini juga penting untuk pemilihan jenis pengobatan. Apakah bisa dilakukan operasi atau tidak? Jika sudah stadium lanjut, maka tidak perlu dilakukan operasi, tetapi bisa diberikan kemoterapi dan radioterapi.
Penentuan stadium kanker saat ini dapat dengan mudah dan efektif dilakukan oleh pemeriksaan PET FDG scan. PET FDG scan adalah modalitas pemeriksaan diagnostik di kedokteran nuklir yang menilai metabolisme  glukosa di dalam tubuh. Pada sel kanker, metabolisme glukosa tinggi, sehingga FDG (obat radioaktif yang terbuat dari gula) akan banyak terakumulasi pada sel kanker.
Scanning dilakukan seluruh tubuh dari kepala hingga ujung kaki. Sehingga, hanya dengan 1 kali scanning seluruh organ bisa dinilai. PET FDG scan yang dilakukan  sebelum pemberian terapi, selain untuk penentuan stadium juga digunakan untuk baseline atau data dasar sebagai perbandingan dalam menilai respon dari pengobatan.
Pada saat dilakukan kemoterapi, di tengah siklus dapat dilakukan PET FDG scan yang kedua untuk menilai apakah obat kemoterapi yang diberikan sudah berkurang bahkan hilang atau masih ada bahkan bertambah. PET FDG scan kedua ini dapat dilakukan setelah siklus kedua kemoterapi. Jika sel kanker sudah berkurang bahkan hilang, maka berarti obat kemoterapi yang diberikan cocok dan dapat diteruskan. Akan tetapi jika sel kanker masih ada bahkan bertambah, maka obat kemoterapi dianggap tidak cocok dan harus diganti dengan jenis obat kemoterapi yang lain. PET scan ketiga dilakukan paling cepat 2 minggu setelah pemberian kemoterapi terakhir. Tujuannya untuk melihat apakah sel kanker di dalam tubuh sudah hilang atau belum.
Jika pengobatan yang dilakukan adalah operasi atau radioterapi, maka PET FDG scan dapat dilakukan sebelum dan sesudah tindakan operasi atau radioterapi tersebut. Waktu yang tepat adalah 8-12 minggu setelah operasi atau radioterapi.
PET FDG scan juga dapat digunakan untuk pemantauan atau follow up pasien kanker payudara. PET FDG scan dilakukan apabila ditemukan peningkatan kadar tumor marker dalam darah atau jika terdapat keluhan lain. Disarankan untuk melakukan PET FDG scan pada pasien kanker payudara yang terkontrol minimal 1 tahun sekali.
Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa PET FDG scan sangat bermanfaat, aman, mudah, dan efektif dalam menentukan stadium, membantu dokter memilih jenis pengobatan, menilai respon dari pengobatan, dan salah satu alat yang digunakan untuk follow up pada pasien kanker payudara.
Contoh kasus dapat dilihat pada gambar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar