Selasa, 04 Juni 2013

DETEKSI PENYAKIT JANTUNG KORONER DENGAN TEKNIK KEDOKTERAN NUKLIR: SIDIK PERFUSI MIOKARD (SPM)

Penyakit jantung, terutama penyakit jantung koroner (PJK), merupakan penyebab kematian peringkat pertama di banyak negara saat ini. Data WHO pada tahun 2003 menyebutkan bahwa PJK merupakan penyebab kematian 17.5 juta orang di dunia. Di Indonesia pada tahun yang sama, jumlah kematian akibat PJK ini menempati urutan ke-4 dan meningkat terus dari tahun ke tahun. Saat ini dapat dipastikan bahwa PJK sudah menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia dan menggeser penyakit infeksi. PJK dapat terjadi baik pada usia muda maupun tua, pria atau wanita, dan penderita dengan atau tanpa penyakit penyerta.
PJK adalah suatu kondisi dimana terjadi penyempitan atau kekakuan (aterosklerosis)  pada dinding pembuluh darah arteri koroner yang menyebabkan suplai aliran darah ke otot jantung menjadi terganggu. Ketidakseimbangan antara suplai aliran darah dengan kebutuhan oksigen otot jantung ini disebut sebagai iskemia otot jantung. Gejala yang paling sering dikeluhkan oleh pasien PJK adalah nyeri dada kiri, walaupun belum pasti disebabkan oleh PJK. Keluhan nyeri dada tersebut baru muncul setelah adanya gangguan aliran darah di otot jantung. Menegakkan diagnosis adanya iskemia otot jantung sebelum terjadi serangan jantung sangat penting, karena risiko kematian akibat PJK dapat diminimalisir apabila adanya iskemia otot jantung sudah terdeteksi sejak dini. Permasalahannya adalah mendeteksi iskemia otot jantung sejak dini bukanlah sesuatu yang mudah. Selain berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan laboratorium, dan elektrokardiogram (EKG), diagnosa PJK juga memerlukan modalitas diagnostik yang lain. Saat ini terdapat beberapa modalitas diagnostik yang dapat membantu dalam menentukan diagnosis PJK, diantaranya adalah EKG-treadmill, ekhokardiografi, CT scan, MRI, kedokteran nuklir, dan angiografi koroner. Semua pemeriksaan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan saling melengkapi dalam penanganan PJK. Walaupun saat ini angiografi koroner yang bersifat invasif masih menjadi gold standard untuk mendeteksi PJK, American Heart Association (AHA)/American College of Cardiology guidelines merekomendasikan angiografi koroner hanya dilakukan pada penderita risiko tinggi berdasarkan pemeriksaan non-invasif. Prosedur pemeriksaan non-invasif masih tetap menjadi pilihan utama dalam mengidentifikasi iskemia otot jantung.


Gambar 1. Urutan kejadian dari nyeri dada yang muncul setelah diawali adanya gangguan aliran darah.

Pemeriksaan sidik perfusi miokardium (SPM) pada kedokteran nuklir merupakan modalitas diagnostik lini pertama yang bersifat non-invasif dan terbaik dalam mendeteksi adanya iskemia otot jantung. Pemeriksaan SPM telah menjadi rekomendasi pada pedoman standar penanganan PJK di Amerika Serikat dan negara maju lainnya. Akan tetapi masih sedikit rumah sakit di Indonesia yang memiliki fasilitas kedokteran nuklir sehingga membuat pemeriksaan SPM menjadi kurang dimanfaatkan.
Tujuan dilakukan SPM pada pasien yang diduga atau telah diketahui menderita PJK adalah untuk mendiagnosis PJK serta luas dan serajatnya, menentukan tingkat risiko penderita PJK, dan menilai keberhasilan pengobatan PJK. Tujuan tersebut berkaitan dengan 2 sasaran utama dari pengobatan PJK yaitu memperbaiki kualitas hidup dengan mengurangi atau menghilangkan gejala dan memperbaiki perjalanan penyakit.
Menentukan ada atau tidaknya PJK adalah tujuan utama dari pemeriksaan SPM. Akan tetapi menurunkan risiko serangan jantung melalui penentuan tingkat risiko dengan pemeriksaan non-invasif menjadi perhatian utama dalam penanganan PJK. Penentuan tingkat risiko dan penilaian prognosis dengan SPM membantu menentukan penanganan PJK selanjutnya yaitu mengoptimalkan pemilihan pasien yang sesuai untuk tindakan invasif revaskularisasi (pemasangan stent atau operasi) atau penanganan non-invasif berupa pemberian obat-obatan oral dan modifikasi gaya hidup.
Pemeriksaan SPM ini dapat mendeteksi adanya gangguan aliran darah di otot jantung, sehingga dapat mendeteksi secara dini adanya iskemia otot jantung sebelum ditemukan adanya kelainan pada EKG maupun timbulnya keluhan nyeri dada. Gangguan aliran darah akibat aterosklerosis tidak hanya terjadi pada pembuluh darah arteri koroner yang besar saja (makrovaskuler), tetapi juga dapat terjadi pada pembuluh darah koroner yang kecil (kapiler; mikrovaskuler) sehingga pemeriksaan SPM dapat menjadi pemeriksaan komplementer dari CT angiografi.
The American College of Cardiology/American Heart Association (ACC/AHA) telah mendeskripsikan tingkat risiko yang meliputi risiko rendah yaitu kurang dari 1 persen per tahun, risiko sedang yaitu 1-3 persen per tahun, dan risiko tinggi yaitu lebih dari 3 persen per tahun risiko terjadinya serangan jantung. Definisi ini secara konsep berkaitan dengan pilihan pengobatan selanjutnya. Pasien dengan risiko tinggi akan mendapat menfaat lebih dengan revaskularisasi sedangkan pasien dengan risiko rendah tidak, dan dapat diterapi hanya dengan obat-obatan untuk mengatasi gejala dan merubah faktor risiko. Pemeriksaan SPM dapat membantu dalam penentuan tingkat risiko dan prognosis ini pada PJK. Pada hasil SPM yang normal maka dapat digolongkan ke dalam risiko rendah untuk terjadinya serangan jantung.


Gambar 2. Angka kematian akibat penyakit jantung pertahun berdasarkan hasil SPM dan jenis pengobatan.

Dasar dari dari pemeriksaan SPM adalah penilaian distribusi obat radioaktif yang akan menggambarkan aliran darah di otot jantung. Cara pemeriksaan dilakukan dalam dua keadaan scanning, yaitu scanning setelah pemberian beban dan scanning saat istirahat yang dapat dilakukan dalam satu hari atau pada hari yang berbeda. Pemberian beban dapat dilakukan dengan beban latihan fisik (treadmill atau ergocycle) atau dengan obat-obatan (adenosin atau dobutamin).
Cara penilaian SPM diarahkan untuk mencari daerah dengan distribusi obat radioaktif yang kurang (defek perfusi) pada hasil scanning dengan beban dan istirahat. Dalam keadaan normal distribusi obat radioaktif pada otot jantung merata. Defek perfusi yang menetap atau irrevesibel (matching defect) dapat disebabkan adanya otot jantung yang telah mati. Sedangkan jika ditemukan mismatch defect, yaitu defek perfusi pada scanning dengan beban dan normal atau menjadi lebih baik pada scanning saat istirahat menunjukkan adanya iskemia otot jantung yang masih hidup. Mismacth defect yang terbalik (reverse redistribution) yaitu penangkapan obat radioaktif dengan hasil scanning beban lebih baik dibandingkan dengan saat istirahat dapat disebabkan oleh PJK yang berat disertai dengan kolateralisasi (pembentukan pembuluh darah) yang baik.
Gambar 3. Hasil gambar SPM dengan tingkat kelainan pada aliran darah di otot jantung.

Selain informasi mengenai aliran darah, penilaian fungsi jantung juga sangat penting untuk diagnosis dan penanganan penyakit jantung. Penilaian fungsi jantung pada SPM ditentukan dengan cara mengikuti pergerakkan obat radioaktif di dalam jantung. Penilaian fungsi jantung dilakukan secara visual dengan melihat pergerakan dinding jantung (wall motion analysis), menentukan nilai ejeksi fraksi, dan penilaian terhadap citra fungsi (functional image).
MRCCC Siloam Hospital Semanggi merupakan rumah sakit swasta yang memiliki komitmen dalam melayani pasien secara komprehensif. Fasilitas yang lengkap dan canggih dalam menunjang pelayanan pasien merupakan keunggulan dari MRCCC Siloam Hospital Semanggi. Kedokteran Nuklir di MRCCC SHS merupakan fasilitas unggulan yang dilengkapi dengan kamera SPECT dan PET. Dengan adanya fasilitas kedokteran nuklir di MRCCC diharapkan dapat dimanfaatkan untuk melayani pasien dengan optimal, khususnya untuk pemeriksaan jantung.

1 komentar: