Sabtu, 18 Agustus 2012

TERAPI KEDOKTERAN NUKLIR


TERAPI DI KEDOKTERAN NUKLIR

Kedokteran Nuklir adalah spesialis kedokteran yang menggunakan sumber radiasi terbuka untuk menilai fungsi dan metabolisme organ , mendiagnosa, dan mengobati penyakit. Di Indonesia, terapi kedokteran nuklir telah rutin digunakan pada beberapa penyakit, antara lain:
1.       Terapi penyakit tiroid

Terapi penyakit tiroid jinak maupun ganas dengan I-131 merupakan modalitas yang telah digunakan secara luas sejak tahun 1940-an. Energi radiasi dari sinar beta yang dimiliki oleh I-131 akan mengablasi jaringan tiroid fungsional sehingga diharapkan produksi hormon tiroid dan ukuran dari kelenjar tiroid akan berkurang. Yang dimaksud dengan penyakit tiroid jinak adalah hipertiroidi dan struma multinodosa atau struma difusa non-toksik. Di Amerika Serikat terapi I-131 merupakan terapi pilihan pertama untuk pasien dengan hipertiroidi; namun di Eropa dan Jepang terapi I-131 baru dilakukan apabila terjadi kegagalan dengan obat anti-tiroid (OAT). 
 

Kekambuhan tumor setelah tiroidektomi total pada pasien yang diberikan terapi ablasi dengan NaI-131 (Mazzaferi and Kloos.J Clin Endocrinol Metab 2001;86(4):1447-1463)


Penyakit keganasan tiroid yang dapat diberikan terapi NaI-131 adalah karsinoma tiroid berdiferensiasi baik (KTB). KTB merupakan keganasan yang berasal dari jaringan epitel folikel tiroid dan masih dapat mensintesis tiroglobulin dan mengakumulasi iodium. KTB dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan histopatologis yaitu folikuler, papilifer, dan campuran. Terapi utama dari KTB adalah tiroidektomi total, dilanjutkan dengan terapi adjuvan yaitu ablasi menggunakan NaI-131 dan terapi supresi hormon tiroid. Kombinasi tiroidektomi total, ablasi dengan NaI-131, dan supresi dengan hormon tiroid terbukti dapat menurunkan angka kekambuhan dan meningkatkan angka harapan hidup dari penderitan dengan KTB. Terapi NaI-131 pada KTB diberikan berdasarkan pada stratifikasi risiko.

Protokol pemberian terapi ablasi pada pasien dengan karsinoma tiroid berdiferensiasi baik (Wartofsky  and Van Nostrand, 2006)


2.       Terapi paliatif untuk nyeri tulang akibat metastasis
Nyeri tulang yang sangat menyiksa akibat metastasis di tulang sering dialami oleh penderita keganasan. Mekanisme terjadinya rasa nyeri belum diketahui secara pasti namun beberapa ahli mengatakan dapat disebabkan oleh infiltrasi tumor dan ekspansi membran tepi tulang yang kaya akan reseptor nyeri, ketidakstabilan mekanik tulang yang terserang, dan adanya produksi mediator senyawa yang dihasilkan oleh sel tumor maupun oleh sel lain pada tulang. Saat ini terdapat beberapa obat radioaktif yang dapat menghilangkan rasa nyeri, diantaranya adalah Samarium-153. Selain sebagai pemancar beta murni Samarium-153 juga memancarkan sinar gamma sehingga dapat dilakukan pencitraan setelah terapi. Walaupun pengobatan tersebut tidak menyembuhkan penyakit primernya (bersifat paliatif), namun banyak digunakan karena sangat menolong dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Pengobatan tidak dapat diberikan kepada pasien wanita yang sedang hamil atau laktasi, pasien dengan fraktur patologis yang pemeriksan darah tepi abnormal.

 Pasien dengan metastasis tulang yang dapat diberikan terapi paliatif dengan Samarium-153


3.       Terapi penyakit lainnya
Terapi kedokteran nuklir pada penyakit lainnya masih belum rutin dilakukan di Indonesia, namun sudah rutin dilakukan di negara maju. Penyakit lain yang dapat digunakan dengan teknik kedokteran nuklir antara lain adalah penyakit neuroblastoma dengan menggunakan I-131 MIBG. Neuroblastoma merupakan salah satu penyakit neuroendokrin tumor yang sering ditemukan pada anak-anak. Terapi I-232 MIBG berdasarkan pada kemampuan sel tumor neuroblastoma dalam  menangkap MIBG dan akan mengalami kematian akibat radiasi dari energi beta yang dipancarkan oleh I-131. Penyakit lain yang dapat diterapi dengan teknik kedokteran nuklir adalah keloid dengan menggunakan Phosphorus-32 (P-32) yang diberikan secara topikal. Mekanisme dari pemberian terapi keloid dengan P-32 masih belum diketahui secara pasti, namun dapat dimungkinkan karena P-32 merupakan pemancar beta murni dengan jarak penetrasi pada jaringan lunak yang minimal. Selain keloid, penyakit polisitemia vera juga dapat diberikan terapi dengan P-32 yang disuntikkan secara intravena. Polisitemia vera adalah suatu kelainan dalam pembentukan sel plasma yang berlebihan di sumsum tulang. Dan masih banyak penyakit lainnya yang dapat diobati dengan menggunakan teknik kedokteran nuklir, seperti sinovitis dengan menggunakan teknik radiosinovektomi, keganasan limfoma dengan menggunakan I-131 dan Y-90 yang dilabel dengan antibodi monoklonal, dan lain sebagainya. Diharapkan seiring dengan majunya ilmu kedokteran nuklir, makin banyak penyakit yang dapat diobati dengan teknik ini.

 Terapi hemangioma dengan menggunakan P-32



 Radiosinovektomi dengan radioisotop


Selama ini terapi dengan teknik kedokteran nuklir diketahui aman dan efektif. Belum ada laporan ilmiah mengenai efek samping atau komplikasi yang bermakna pada penderita yang diberikan terapi kedokteran nuklir. Kontraindikasi absolut untuk terapi kedokteran nuklir adalah pada penderita hamil dan menyusui, sedangkan kontraindikasi relatif tergantung pada kondisi penderita sebelum diberikan terapi.

16 komentar:

  1. Selamat pagi dokter..

    dokter, saya bayu. kebetulan bapak saya rencananya pada tgl 1 Oktober nanti akan di terapi nuklir di RSCM berkaitan dengan adanya masa di klenjar kantung kemih. maka dari itu sekrang saya sdg mencari info sebanyak-bbanyaknya ttg terapi nuklir. dari beberapa yg saya baca, hal itu tidak membahayakna selama dilakukan dengan benar.

    saya ingin tanya dok, jkalau sudah di terapi nuklir? apakah harus di operasi juga? awalnya bapak saya didiagnosa dengan adanya tumor di tulang kakinya. setahun yg lalu telah dioperasi di RSCM juga, sekarang2 ini bapak mengeluh kalo ada kaya hernia, setelah diperiksa mmg ada hernia tetapi ada masa juga di kelenjar kandung kemihnya. kemaren (20 Sept'12) periksa ke rscm, ike radiologi terus dijadwalkan untuk terapi kanker tgl 1 Okt'12.

    tanya dokter, kalo untuk di siloam sendiri. biaya terapi nuklir itu berapa ya? terapi nuklir itu sendiri harus berkala tiap beberapa waktu atau? maaf kalo pertnyaan saya tidak berkenan dihati.

    maaf dokter, saya boleh tau alamat email pribadi dokter? berikut alamat meail saya, pamungkas27@gmail.com

    atas perhatiandan bantuan dari dokter, saya ucapkan terima kasih

    salam,

    bayu

    BalasHapus
  2. Dear Bpk Bayu,

    Terima kasih untuk pertanyaanya, saya coba jawab semampu saya yah pak. Kalau ada massa di dalam tubuh, termasuk kandung kemih harus dipastikan dulu apakah massa tersebut sesuatu yang ganas atau jinak. Jika hasilnya jinak, maka terapinya mungkin cukup dengan operasi. Tapi, jika hasilnya adalah ganas, maka terapinya tidak cukup dengan operasi. Terapi yang utama dari keganasan adalah operasi, bila dimungkinkan, lalu dilanjutkan dengan kemoterapi dan atau radioterapi untuk membersihkan sisa-sisa sel ganas. Kombinasi dari ketiga terapi tersebut dapat dilakukan sesuai dengan kondisi pasien. Untuk terapi nuklir, merupakan terapi tambahan dari ketiga terapi tersebut dan diberikan untuk meingkatkan efektifitas dari terapi pada keganasan tersebut. Untuk keganasan di kandung kemih, bagian kedokteran nuklir belum dapat berperan kecuali sudah ada penyebaran ke tulang. Kami dapat membantu mengurangi nyeri tulang yang disebabkan oleh penyebaran dari keganasan. Tapi untuk pemeriksaan diagnostik pada keganasan kandung kemih, bagian kedokteran nuklir dapat membantu mendeteksi adanya penyebaran keganasan di tempat lain serta membantu menilai dari keberhasila terapi yang sudah dilakukan. Pemeriksaannya dapat dilakukan dengan menggunakan PET scan atau bone scan.
    Terkait dengan rencana terapi nuklir yang rencananya akan diberikan kepada ayahanda dari pak Bayu, harus dipastikan lagi apakah terapi nuklir yang biasa diberikan di bagian kedokteran nuklir atau terapi yang lain yang menggunakan energi radiasi juga (radioterapi). Karena ada perbedaan cara pemberian dari keduanya, walaupun sama2 menggunakan energi radiasi. Pada radioterapi, energi radiasi diberikan melalui eksternal (ditembakkan dari luar tubuh) hanya pada lokasi yang terdapat tumornya saja. Sedangkan, pada terapi nuklir, radiasi dimasukkan ke dalam tubuh pasien dan akan ditangkap secara spesifik atau secara khusus oleh sel tumornya, makanya terapi nuklir juga sering disebut sebagai radiasi interna. Namun sebelum dilakukan terapi nuklir ini harus dilakukan pemeriksaan2 awal dahulu sebelum dilakukan terapi.
    Demikian pak, informasi yang dapat saya berikan. Semoga dapat membantu bapak Bayu dalam pengobatan dari penyakit ayahanda Bapak Bayu. Semoga Tuhan selalu memberkati Bapak bayu dan keluarga.

    Salam
    Dr. Ryan Yudistiro, SpKN, MKes

    BalasHapus
  3. Dear Dokter Ryan,

    Perkenankan kami ingin menanyakan apakah untuk pengobatan dengan nuklir bisa untuk pasien Jantung lemah?

    ayah saya saat ini jantung nya lemah apakah terdapat pengobatan dengan terapi nuklir ya dok?

    terimakasih

    BalasHapus
  4. Sampai saat ini belum ada terapi kedokteran nuklir yang bisa dilakukan untuk penderita gagal jantung. Dulu pernah dicoba untuk sumbatan pembuluh darah koroner tapi tidak dilanjutkan kembali. Semoga nanti akan ada penelitian yang mengembangkan terapi kedokteran nuklir untuk gagal jantung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear Dokter Ryan,
      Terkait jawaban dokter di tahun 2014 tersebut apa masih sama di tahun 2016 ini ?
      ayah saya pasien RSJP Harapan Kita, 2015 masuk ICCU 2Pekan. Dokter sudah angkat tanggan tapi Alhamdullillah sekarang sudah bisa kontrol 3bulan sekali, dan terakhir kontrol pada feb 2016 dokter menyarankan untuk ke RSUPAD Gatot subroto untuk di nuklir.
      maaf dok tolong di jelaskan apakah nuklir aman untuk Jantung ? apa saja efek sampingnya ?
      Terimakasih

      Hapus
  5. selamat malam dokter,

    saya punya keponakan perempuan umur 14 thn,menderita kanker kelenjar getah bening stadium 4 lanjut,tenggorokannya dioperasi (dilubangi) untuk bernafas sebab lubang hidung sdh tertutup kanker.Sdh 1 bln ini dirawat dirs abdul muluk bandar lampung,asupan makanan melalui infus. Sudah dikemoterapi 16 kali,dokter dilampung menyarankan dibawa ke rs dijakarta,tapi kondisi belum memungkinkan,apakah bisa di obati dengan terapi nuklir ya dokter? trimakasih banyak dokter atas jawabannya

    BalasHapus
  6. Pengobatan kanker kelenjar getah bening saat ini memang baru sebatas kemoterapi, radioterapi, dan operasi. Kedokteran nuklir dapat berperan pada pengobatan kanker kelenjar getah bending dengan menggunakan metode radioimmunotherapy. Hanya saja di Indonesia belum ada karena harga yang relatif mahal. Pengobatan ini sudah berkembang di amerika dan Europa.
    Tapi, kedokteran nuklir juga berperan pads scanning seluruh tubuh dengan PET scan, untuk penentuan stadium, menilai respon pengobatan, dan mendeteksi kekambuhan.

    BalasHapus
  7. berat badannya saat ini kurang lebihhanya 5 kg , sekarang kanker nya sudah mulai menyerang mata . apakah mungkin dia bisa sembuh dari penyakit tsb ?

    BalasHapus
  8. Dear dr. Ryan,
    Perkenalkan nama sy helma umur 34, mau bertanya kalau hasil uji ft4 dan tshs sudah normal tetapi kelenjar thyroid masih sedikit bengkak. Obat yang dikonsumsi selama ini setiap pagi euthyrox dosis 25mg apakah penyakit saya ini sudah di katakan sembuh dan bisa berhenti minum obat atau bagaimana ya dok? Terima kasih sebelumnya...

    BalasHapus
  9. Perkenalkan nama saya Ayu Naisyah ibu saya berniat untuk melakukan terapi nuklir karena dalam jangka 2 tahun beliau menjalani kemo terapi belum menuaikan hasil yang diinginkan. Sehingga ibu saya memberhentikannya sendiri dikarenakan keaadaan fisik yg tak kuat lagi . Ibu saya sekarang merasa ada bejolan lagi tumbuh di bawah ketiak di dekat daerah operasi lama mama dulu ini sudah masuk tahun ke-8 mama menderita kanker dalam jangka waktu tersebut sempat beberapa kali mama dinyatakan bebas dari kanker. Yang ingin saya tanyakan apakah bisa mama saya menjalani pengobatan nuklir ini ? Dan kira-kira berapa kali agar dapat dinyatakan sembuh ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf ibunda anda menderita kanker apa? Kalau kanker tiroid bisa diobati dengan terapi iodiun radioaktif ini.

      Hapus
  10. Dear Dokter Ryan,

    Saya Mulia, Ibu saya berniat melakukan terapi nuklir karena ibu saya di diaknosa fatikular karsinoma. Ibu saya maret 2015 kemarin sudah menjalankan operasi tiroid. kelenjar gondok sudah diangkat. hasil Lab PA menunjukkan Fatikular Karsinoma dan dokter menyarankan untuk terapi nuklir. yang ingin saya tanyakan berapa kali menjalan terapi nuklir agar pasien dinyatakan sembuh. kemudian bagaimana proses awal dan hal hal yang harus di persiapkan untuk menjalankan terapi nuklir ini..terima kasih

    BalasHapus
  11. Dok,sya widi pasien karsinona papillary variant follukukar sya tlah mnjalani ablasi tgl 9 mei 2016,umur 26 tahun tlh berkeluarga dg satu anak umur 6 thun dok...apkah sya sudah boleh dkt2 sma anak trs apakah sudah boleh tidur satu kmar sama suami soalnya sya slse di ablasi dan diisolasi 5 hari trs 10 hari kmudian sya tinggal di kos.trimksih dok sya tunggu jwbnnya.

    BalasHapus
  12. Ellen liongelina25 September 2017 11.00

    Selamat siang dok,
    Suami saya pasien pappilary carcinoma
    7/9/17 thyroidactomy total di penang dan dijadwalkan akan RAI tgl 18/12/17 1bulan sebelum diminta utk stop euthyrox dan disarankan untuk suntik thyrogen 2ampul (katanya supaya tdk kena hypothyroid yg bs menggangu aktifitas kerja) dan 48jam prior RAI 1ampul 24jam prior RAI 1ampul. Di Indonesia di RS mana yg bisa menyediakan suntikan Thyrogen? Apakah memang suntikan Thyrogen ini betul2 bisa membantu pengobatan lbh maksimal? Terima kasih banyak dok
    Ditunggu balasannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setau saya thyrogen belum masuk di Indonesia. Thyrogen membuat pasien menjadi lebih nyaman untuk terapi ablasi tanpa harus mengalami gejala hipotiroid. Hasil pengobatan dipengaruhi oleh kadar TSHs terstimulasi yg bs dicapai dgn 2 cara: 1) stop euthyrox, 2) thyrogen (tdk perlu stop euthyrox).

      Hapus